Apakah qalb dalam Al-Qur’an hanya berarti “hati”?Buku ini mengajak pembaca menelusuri pertanyaan itu lewat tiga jalur: antropologi Al-Qur’an, tradisi tafsir isyârî (Al-Ghazali, Ibn ‘Arabi, Al-Qusyairi), dan neurosains kesadaran kontemporer. Hasilnya, qalb tidak bisa dipersempit menjadi organ, metafora, atau sirkuit saraf. Ia adalah kesadaran multidimensional yang bekerja sekaligus pada dimensi epistemologis, moral, spiritual, dan eksistensial.
Dari penelusuran ini lahir neurohermeneutika Al-Qur’an, sebuah kerangka dialog kritis antara teks dan sains. Kerangka ini tidak mencari ayat pembenar bagi temuan laboratorium, dan tidak pula membiarkan sains menggantikan otoritas wahyu. Diuji pada Surah Ar-Ra’d/13:28 dan hadis mudghah, kerangka ini menunjukkan sejauh mana neurosains dapat menjelaskan zikir dan ketenangan hati, serta di titik mana penjelasannya harus berhenti.
Sebuah ikhtiar menjaga kerendahan hati metodologis: sains menjelaskan bagaimana, wahyu menuntun pada mengapa.







Reviews
There are no reviews yet.