Wahyu Menuju Kekuasaan mengajak pembaca memahami bagaimana Al-Qur’an membentuk cara manusia memandang dan menjalankan kekuasaan. Melalui kajian tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān karya Sayyid Quthb, buku ini menegaskan bahwa politik bukan sekadar tentang siapa yang berkuasa, tetapi bagaimana kekuasaan dijalankan sebagai amanah untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan. Tauhid menjadi dasar utama bahwa kekuasaan bukan milik mutlak manusia, melainkan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Buku ini menguraikan prinsip etika politik Qur’ani berupa amanah, musyawarah, keadilan, persamaan, toleransi, dan tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Prinsip-prinsip tersebut menjadi landasan agar jabatan tidak menjadi hak istimewa, hukum tidak disalahgunakan, dan masyarakat tidak diperlakukan sebagai objek kekuasaan.
Di sisi lain, buku ini membahas berbagai penyimpangan kekuasaan, seperti korupsi, kolusi, penyalahgunaan jabatan, pengkhianatan amanah, manipulasi hukum, serta kepentingan pribadi dan kelompok. Penyimpangan tersebut dipandang sebagai bentuk krisis moral dan hilangnya orientasi tauhid. Karena itu, perubahan tidak cukup melalui aturan dan lembaga, tetapi harus dimulai dari pembentukan manusia yang bertauhid, amanah, adil, mampu mengendalikan hawa nafsu, serta berani melakukan kontrol sosial.
Pada akhirnya, Wahyu Menuju Kekuasaan menegaskan bahwa persoalan politik bukan hanya tentang siapa yang memegang kekuasaan, tetapi nilai apa yang mengendalikan kekuasaan tersebut. Ketika wahyu menjadi sumber etika, kekuasaan dapat menjadi amanah untuk menegakkan keadilan, menjaga martabat manusia, mencegah kesewenang-wenangan, dan mewujudkan kemaslahatan bersama.





Reviews
There are no reviews yet.